Berita Terbaru
Instagram
Youtube Channel

Jejak Waktu di Song Terus

 Jejak Waktu di Song Terus

Oleh: Altamira Akira, Denisha Arcelia Nihayati, Kartika Julianti

Gambar: Museum Situs Song Terus, Pacitan, Jawa Timur

 

Siang itu, Amel mengunjungi Museum Song Terus bersama teman-teman sekelasnya.

Museum yang terletak di Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menyimpan berbagai peninggalan manusia prasejarah dari kawasan karst Gunung Sewu.

Amel berhenti di depan sebuah vitrin yang memajang replika alat batu dan kerangka manusia prasejarah. Pada papan informasi tertulis bahwa Gua Song Terus merupakan salah satu situs hunian prasejarah penting di Pacitan.

“Untuk apa manusia zaman dahulu tinggal di gua dan menggunakan batu?” gumam Amel.

 

Gambar: Vitrin Pameran Alat Batu Prasejarah di Museum Song Terus

 

Ketika menyentuh replika alat batu, Amel tiba-tiba merasakan permukaannya menghangat.

Suara museum menghilang, berganti dengan bunyi tetesan air dan dentuman batu. Dalam sekejap, ia seolah-olah berada di dalam gua yang gelap dengan dinding batu gamping.

Di hadapannya, seorang pria sedang membuat alat dari batu. Dengan teliti, pria itu memukul batu hingga terbentuk serpihan yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

“Tempat ini adalah rumah kami. Gua melindungi kami dari hujan dan cuaca buruk,” ujar pria itu.

Amel mengamati sekelilingnya. Beberapa anggota kelompok tampak mengolah hasil buruan, sedangkan yang lain memanfaatkan tulang hewan untuk membuat peralatan. Mereka menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pria itu kemudian menjelaskan bahwa kehidupan mereka bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Alat batu membantu mereka mengolah makanan dan bahan lainnya. Mereka juga memanfaatkan gua sebagai tempat berlindung.

Amel menyadari bahwa manusia prasejarah bukanlah manusia tanpa pengetahuan. Mereka memiliki keterampilan, pengalaman, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam.

❖  ❖  ❖

Sebelum Amel sempat bertanya lebih jauh, pemandangan di sekelilingnya berubah. Ia melihat lapisan tanah yang menyimpan serpihan batu, tulang hewan, cangkang kerang, serta sisa pembakaran. Pria itu menjelaskan bahwa benda-benda tersebut dapat menjadi petunjuk bagi manusia masa depan untuk memahami kehidupan mereka.

“Bagaimana orang-orang di masa depan mengetahui kehidupan kita hanya dari benda- benda ini?” tanya Amel.

“Amatilah peninggalan kami dengan saksama. Setiap temuan menyimpan petunjuk, tetapi manusia harus menelitinya sebelum menarik kesimpulan,” jawab pria itu.

Tiba-tiba, suara bel terdengar nyaring.

 

Bip! Bip! Bip!

Amel tersentak dan kembali berdiri di ruang pamer Museum Song Terus. Ia menyadari bahwa perjalanan ke masa lalu tadi hanyalah pengalaman imajinasinya. Namun, rasa ingin tahunya terhadap sejarah telah tumbuh.

Amel teringat bahwa para arkeolog mempelajari peninggalan masa lalu melalui penggalian atau ekskavasi, pengamatan artefak, analisis fosil, dan penelitian lapisan tanah. Dari bukti-bukti tersebut, mereka dapat menyusun gambaran tentang kehidupan manusia prasejarah.

Museum Song Terus hadir untuk melestarikan peninggalan tersebut sekaligus menjadi sarana pendidikan dan penelitian sejarah. Kini, Amel memahami bahwa benda-benda yang dahulu dianggapnya kuno dan tidak menarik ternyata menyimpan informasi berharga tentang kehidupan manusia pada masa lampau.

Sejak hari itu, Amel tidak lagi memandang sejarah sebagai sekadar kumpulan tanggal dan cerita. Ia belajar bahwa setiap peninggalan harus dipahami berdasarkan bukti agar kisah masa lalu dapat diwariskan secara tepat kepada generasi berikutnya.